Waktu Posting : 06-09-2018 02:13 | Dibaca : 1788x
31-05-2014 10:23
Kelebihan berat badan tak cuma mengganggu penampilan tapi juga membuat badan tak terjamin kesehatannya. Aneka penyakit akan dengan mudah datang dan bersarang. Tapi bukan berarti semua itu tak dapat diatasi. Dengan bantuan olahraga, diet, dan motivasi serta disiplin yang kuat, niscaya berat badan yang berlebih bisa diatasi. Secara mudah, kegemukan dapat diartikan sebagai adanya kelebihan lemak di bagian tubuh tertentu sehingga antara lain menyebabkan berat badan melebihi normal. Kelebihan lemak bisa dijumpai di lipatan perut, paha, pantat, lengan bagian atas, leher, dan sebagainya. Selain itu, jantung dan pembuluh darah juga sering diselimuti lemak. Dan kegemukan bukan saja menurunkan nilai penampilan serta daya tarik, tapi juga mendekatkan kita pada beragam penyakit yang menurunkan nilai kesehatan. Ini berbeda dengan penampilan tubuh atlet body building (binaraga). Walau mereka kelebihan berat badan, tapi tidak dapat dikatakan gemuk sebab yang berkembang adalah otot, bukan lemak tubuh. Baca juga : Membincang Perawatan Kesehatan Wanita Untuk menilai berat badan tersebut antara lain dapat diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI). Yaitu perbandingan berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (meter). Anda dengan berat 64 kg dan tinggi 1,5 m misalnya, nilai BMI-nya adalah 28,4. Nah, berdasar perhitungan tadi, Anda bisa dikategorikan bertubuh gemuk sebab BMI tubuh yang ideal adalah berkisar antara 20-25. Bila nilainya di atas 27, sudah dikategorikan gemuk. Angka BMI ini hampir sama pada pria maupun wanita. Begitulah, kegemukan mau tidak mau pasti akan menambah berat badan dan menimbulkan gangguan kesehatan. Antara lain gangguan pada sistem pembuluh darah dan jantung. Sebab sebagian kandungan lemak itu terdapat di sepanjang pembuluh darah. Akibatnya, kerja jantung untuk memompa darah semakin berat. Di sisi lain, sebagian lainnya juga akan melapisi bagian luar jantung. Ini pun akan mempersulit kerja jantung. Adanya lemak di sepanjang pembuluh darah dapat pula menurunkan elastisitas pembuluh darah balik yang pada gilirannya akan mempermudah timbulnya varises, khususnya di betis. Kaki jadi mudah mengalami kelelahan karena beban kaki sebagai penyangga tubuh tambah berat akibat berat badan bertambah. Akibat lain, tulang dan sendi bisa mengalami gangguan. Ya, ibarat mobil sajalah. Bila terlalu sering kelebihan muatan akan mempercepat kerusakan. Orang yang menderita kegemukan juga cenderung rentan terhadap gangguan penyakit. Misalnya saja penyakit gula (diabetes). Orang yang mengalami kegemukan biasanya suka makan sehingga hormon insulin tidak mampu lagi mengolah gula. Akibatnya gula menumpuk. Ginjalnya pun akan cepat rusak. Baca juga : Jangan Sepelekan Influenza Dari beragam risiko tersebut, jelas sulit untuk mengatakan, orang gemuk dapat sehat dalam jangka waktu panjang. Mungkin untuk sementara waktu mereka dapat sehat. Tapi 4-5 tahun kemudian berbagai gangguan kesehatan tadi akan muncul, meskipun yang bersangkutan berusaha agar tetap sehat. Karena kegemukan tidak sehat, maka sedini mungkin ia harus dihindari. Yaitu pada usia 18-20 tahun. Berat badan harus senantiasa terkontrol agar mencapai sekitar berat badan ideal. Setelah usia 20 tahun sudah mendapat berat badan ideal. Ini yang harus dipertahankan. Naik, boleh-boleh saja, tapi tak lebih dari 10 persen. Berat badan ideal (BBI) dapat dihitung dengan rumus: tinggi badan dikurangi 100. Kalau tingginya 160 cm, berat idealnya sekitar 60 kg. Kalaupun mau naik, ya, cukup 2-3 kg saja. Untuk mempertahankan berat ideal, olahraga adalah jawaban utamanya. Bagaimana upaya agar tetap sehat kendati menderita kegemukan? Ada dua hal yang harus diperhatikan. Antara lain melakukan aktivitas tubuh secara teratur. Sedapat mungkin harus selalu melakukan olahraga. Misalnya jalan kaki, naik tangga, lari, renang, senam, atau melakukan gerakan tubuh secara teratur dan seimbang.
21-06-2014 03:52
Asti merasa lega sekaligus heran setelah membawa Icha, putrinya, berobat ke klinik THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan). Asti lega ternyata berkurangnya pendengaran Icha selama seminggu ini hanya disebabkan oleh sumbatan kotoran telinga, bukan oleh suatu kelainan atau penyakit serius. Akan tetapi Asti juga tak habis pikir, mengapa telinga Icha justru tersumbat oleh kotoran, padahal ia rajin sekali membersihkan telinga putrinya itu. Ia pun selalu menggunakan lidi kapas khusus, tak pernah menggunakan benda tajam yang dapat melukai telinga. Nah, lho! Sudah rajin dibersihkan, kok malah tersumbat kotoran? Sebenarnya yang dimaksud dengan kotoran telinga tak lain adalah serumen, yaitu suatu substansi di dalam lubang telinga yang berwarna kekuningan dan lengket. Konsistensinya biasanya lunak, tetapi kadang-kadang padat, terutama dipengaruhi oleh keturunan, disamping faktor lain seperti iklim dan usia. Serumen, istilah yang datang dari bhs Latin, yakni cera (lilin), adalah produksi alamiah telinga. Sepertiga sisi luar dari lubang telinga memanglah memiliki kandungan kelenjar yang berperan memproduksi serumen. Pada beberapa orang dihasilkan banyak serumen seperti beberapa orang lebih gampang berkeringat dibanding yang lain. Oleh lantaran berniat dibentuk, pastinya serumen tak ditujukan semacam pengganggu, malah sebaliknya serumen adalah satu wujud perlindungan pada telinga. Baca juga : Konsumsi 5 Makanan Bergizi Ini Untuk Dapatkan Payudara Sehat Serumen di lubang telinga bakal menangkap debu, mikroorganisme, ataupun partikel-partikel asing, serta menghindarnya masuk ke susunan telinga yang lebih dalam. Serumen juga mempunyai efek bakterisidal (bisa membunuh bakteri). Efek itu disangka datang dari komponen asam lemak, lisozim serta immunoglobulin yang dikandungnya. Kecuali itu, pH serumen yang relatif rendah adalah satu aspek penambahan yang bisa menghindar terjadinya infeksi. Serumen juga berperan semacam pelumas yang bakal melindungi telinga agar tak kekeringan. Dalam keadaan kekeringan, lubang telinga bakal benar-benar gampang terbuka, mengakibatkan telinga bakal jadi nyeri serta rawan pada infeksi. Ini menunjukkan bahwasanya serumen tak cuma membuat perlindungan telinga dari ancaman yang datang dari luar, tetapi juga melindungi supaya lingkungan didalam telinga terus ada dalam keadaan yang fisiologis. Pembersihan serumen dengan cara terus-menerus terlebih hingga di hilangkan semuanya malah bakal merugikan. Pada prinsipnya, telinga bakal bersihkan dianya. Umumnya serumen bakal terbentuk sedikit untuk sedikit, lalu bakal keluar sendiri pada saat mengunyah dengan membawa dan beragam kontaminan yang terjebak bersamanya. Sesudah hingga diluar lubang telinga serumen bakal hilang menguap oleh panas. Tetapi, kondisinya barangkali tidak sama pada tiap-tiap orang, tergantung pada banyak produksi serumen. Baca juga : Kebiasaan yang bisa cegah Obesitas bagi Wanita Kantor Rutinitas mengorek-ngorek telinga umum kita temui, ada yang memakai batang korek api, tisu, lidi kapas spesial, atau juga benda-benda kecil yang terbuat dari logam. Apa pun bahan yang dipakai, bersihkan telinga tak bisa kita kerjakan sendiri. Bersihkan telinga mesti dikerjakan oleh orang yang pakar serta terlatih. Karenanya kita bisa berkunjung ke klinik-klinik THT dirumah sakit paling dekat atau ke praktek pribadi dokter, terutama dokter spesialis THT. Dengan mengorek telinga, kita malah mendorong serumen ke celah sempit itu, tempat di mana semestinya serumen tak terbentuk. Mengakibatkan serumen bakal terjerat serta terakumulasi sampai pada akhirnya mengakibatkan sumbatan pada lubang telinga. Sumbatan itu bakal menghambat hantaran gelombang nada ke gendang telinga hingga pendengaran bakal jadi menyusut. Kecuali menyusutnya pendengaran, tanda-tanda disebabkan sumbatan serumen bisa juga berbentuk rasa terhalang serta barangkali juga rasa nyeri pada telinga. Kadang-kadang sumbatan serumen yang padat jadi lembab, umpamanya sesudah mandi, maka sumbatan itu bisa mengembang serta mengakibatkan masalah pendengaran sesaat. Jadi, sudah saatnya untuk melupakan kebiasaan mengorek telinga agar terhindar dari berbagai macam bahaya yang ditimbulkannya.
30-12-2025 22:12
Perkembangan digital marketing terus mengalami perubahan signifikan dari tahun ke tahun. Memasuki 2026, strategi pemasaran digital tidak lagi bisa dijalankan dengan pendekatan lama. Persaingan yang semakin ketat, perubahan teknologi, serta regulasi baru menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas kampanye bisnis. Salah satu tantangan terbesar yang paling dirasakan oleh pelaku usaha adalah Biaya iklan meningkat, yang secara langsung berdampak pada hasil dan efisiensi pemasaran digital.Biaya Iklan Meningkat Menjadi Beban BaruKenaikan biaya iklan digital kini menjadi fenomena global. Platform seperti mesin pencari, media sosial, dan marketplace semakin ramai oleh pengiklan dari berbagai sektor. Sistem penawaran berbasis lelang membuat harga iklan terus naik seiring meningkatnya permintaan. Dalam kondisi ini, Biaya iklan meningkat bukan hanya memengaruhi perusahaan besar, tetapi juga sangat dirasakan oleh bisnis kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan anggaran.Persaingan Ketat di Ruang Iklan DigitalJumlah brand yang berlomba-lomba mendapatkan perhatian audiens terus bertambah. Brand dengan modal besar mampu menguasai posisi strategis dalam iklan berbayar, sementara bisnis dengan dana terbatas harus berjuang lebih keras. Ketika Biaya iklan meningkat, risiko terjadinya ketimpangan persaingan semakin besar. Tanpa strategi yang tepat, kampanye digital bisa menjadi tidak efektif dan hanya menghabiskan anggaran tanpa hasil optimal.Menurunnya Daya Tarik Iklan KonvensionalAudiens digital saat ini semakin kritis dan selektif. Paparan iklan yang berlebihan membuat banyak pengguna mengabaikan pesan promosi yang tidak relevan. Akibatnya, meskipun Biaya iklan meningkat, tingkat konversi tidak selalu mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan digital marketing 2026 tidak hanya soal biaya, tetapi juga tentang kualitas pesan dan kreativitas konten.Perubahan Algoritma Platform DigitalPlatform digital terus melakukan pembaruan algoritma untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Dampaknya, jangkauan organik konten bisnis semakin terbatas. Banyak brand akhirnya bergantung pada iklan berbayar untuk mempertahankan visibilitas. Ketergantungan inilah yang mempercepat tren Biaya iklan meningkat, karena semakin banyak bisnis bersaing dalam ruang iklan yang sama.Regulasi Privasi dan Efektivitas TargetingIsu perlindungan data pengguna turut memengaruhi dunia digital marketing. Pembatasan akses data membuat proses penargetan iklan menjadi kurang presisi. Ketika audiens yang dituju tidak tepat, biaya iklan menjadi kurang efisien. Dalam situasi ini, Biaya iklan meningkat tidak selalu sejalan dengan hasil yang diperoleh, sehingga bisnis perlu mencari pendekatan baru yang lebih adaptif.Teknologi sebagai Upaya Mengendalikan BiayaDi tengah tantangan yang ada, teknologi tetap menjadi solusi potensial. Pemanfaatan kecerdasan buatan, automasi iklan, dan analitik data membantu bisnis memahami perilaku audiens secara lebih mendalam. Dengan strategi berbasis data, pengiklan dapat mengoptimalkan anggaran dan menekan dampak Biaya iklan meningkat tanpa harus mengorbankan performa kampanye.Perubahan Perilaku Konsumen DigitalKonsumen modern menginginkan pengalaman yang lebih personal dan autentik. Mereka lebih tertarik pada brand yang mampu memberikan nilai, bukan sekadar promosi. Oleh karena itu, saat Biaya iklan meningkat, pendekatan pemasaran harus berfokus pada pembangunan hubungan jangka panjang, bukan hanya penjualan instan. Strategi storytelling, edukasi, dan engagement menjadi semakin penting.Strategi Bertahan Menghadapi Digital Marketing 2026Untuk tetap kompetitif, bisnis perlu mengombinasikan iklan berbayar dengan strategi organik. Optimalisasi SEO, pengembangan konten berkualitas, pemanfaatan media sosial, serta kolaborasi dengan kreator digital dapat membantu mengurangi ketergantungan pada iklan berbayar. Pendekatan ini efektif untuk menekan dampak Biaya iklan meningkat sekaligus memperkuat citra brand di mata audiens.Digital marketing 2026 menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi pelaku usaha. Biaya iklan meningkat menjadi isu utama yang tidak bisa dihindari, namun tetap dapat dikelola dengan strategi yang tepat. Bisnis yang mampu beradaptasi, memanfaatkan teknologi, dan memahami kebutuhan konsumen akan tetap mampu menjalankan kampanye digital secara efektif meskipun berada di tengah tekanan biaya yang terus naik.