Waktu Posting : 11-06-2014 23:01 | Dibaca : 2896x
11-06-2024 23:54
Dari dulu hingga kini, stroke termasuksalah satu penyakit yang paling ditakuti. Penyakit ini terjadi ketika jaringan otak tidak berfungsi dengan baik dan aliran darah serta oksigen ke dalamnya kurang. Hingga saat ini, diketahui setidaknya ada beberapa hal yang dapat menyebabkan dan meningkatkan risiko stroke, di antaranya : 1. Tingginya Tekanan Darah Penyebab paling umum terjadinya stroke adalah tingginya tekanan darah, atau dalam dunia medis disebut hipertensi. Sebaiknya kamu waspada akan ancaman stroke jika memiliki tekanan darah lebih dari 140/90. 2. Kebiasaan Merokok Memiliki kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terkena stroke. Pasalnya, nikotin yang terkandung di dalam rokok dapat meningkatkan tekanan darah (penyebab paling umum dari stroke). Selain itu, asap rokok juga dapat menyebabkan lemak di arteri leher utama menumpuk, darah menjadi lebih kental, dan lebih rentan membeku. Bahaya rokok ini juga perlu diwaspadai oleh mereka yang sering terpapar asap rokok, lho. 3. Mengidap Penyakit Jantung Penyakit jantung dan stroke memang bisa dibilang memiliki hubungan yang erat. Pasalnya, orang yang mengidap penyakit ini lebih rentan terserang stroke, dibanding yang tidak. Hal ini tak terlepas dari fungsi jantung yang sangat vital, yaitu memompa darah ke seluruh tubuh. Berbagai gangguan pada jantung yang dimaksud dalam hal ini termasuk fibrilasi atrium, kerusakan katup jantung, detak jantung yang tidak teratur, dan arteri yang tersumbat karena timbunan lemak. 4. Genetik Faktor ini cukup berpengaruh pada risiko stroke seseorang. Artinya, jika kamu memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke, risiko kamu untuk bisa mengalami kondisi serupa akan meningkat. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 5. Obesitas Jika obesitas disebut-sebut bisa sebabkan stroke, jawabannya tentu iya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan yang tertuang dalam Obesity and Stroke Fact Sheet dari Obesity Action Coalition, yang menjelaskan bahwa peluang untuk terkena stroke dapat meningkat pada orang yang kelebihan berat badan, tak peduli pria ataupun wanita. Selain itu, obesitas juga menjadi faktor risiko untuk hipertensi, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan stroke. 6. Kolesterol Tinggi yang Tak Terkontrol Kolesterol yang kadarnya terlalu tinggi akan membentuk lapisan pada dinding-dinding pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah menjadi sempit, sehingga sel-sel darah pun menjadi sulit mengalir ke seluruh tubuh. Jika aliran darah terhambat, risiko penyakit berbahaya seperti stroke pun meningkat. 7. Mengidap Diabetes Diabetes bisa dibilang penyebab tidak langsung terjadinya stroke. Hal ini karena orang yang mengidap penyakit ini biasanya lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi dan cenderung obesitas. Kedua kondisi itu dapat meningkatkan risiko stroke. Terlebih, diabetes dapat membuat pembuluh darah menjadi rusak, sehingga stroke jadi lebih mungkin terjadi. 8. Usia Meski bukan faktor penentu utama (karena siapapun bisa mengalami stroke), usia nyatanya dapat meningkatkan risiko. Secara umum, peluang seseorang untuk terserang stroke akan meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah berusia lebih dari 55 tahun. 9. Gender Pada usia yang sama, jika dibandingkan, wanita memiliki risiko yang lebih kecil ketimbang pria, untuk mengalami stroke. Namun, bukan berarti wanita terbebas dari risiko stroke, lho. Mengingat penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tanpa pandang bulu. Hanya saja, kemungkinan stroke pada wanita baru meningkat ketika telah menginjak usia lanjut. Itulah beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya stroke. Cegah penyakit ini dengan menerapkan gaya hidup sehat. Jika kamu merasa berisiko mengalami penyakit ini, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter maupun mengonsumsi obat sesuai petunjuk ahli farmasi. Kunjungi websitenya di https://pafisorongkab.org/.
13-01-2025 18:39
Kuret (atau kuretase) adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mengangkat jaringan dari dalam rahim wanita. Prosedur ini biasanya melibatkan penggunaan alat yang disebut kuret, yang berfungsi untuk mengikis lapisan dalam rahim. Kuret sering dilakukan bersamaan dengan dilatasi, di mana leher rahim dibuka (dilatasi) sebelum jaringan diangkat. Prosedur ini dikenal sebagai Dilatasi dan Kuretase (D&C).Tujuan dan Indikasi Prosedur Kuret :Kuret dilakukan untuk berbagai alasan medis, antara lain :Mengatasi Perdarahan AbnormalJika seorang wanita mengalami perdarahan menstruasi yang berat atau tidak teratur, kuret bisa digunakan untuk membersihkan lapisan rahim dan menghentikan perdarahan.Mengobati Keguguran atau Kehamilan Tidak BerhasilSetelah keguguran, jaringan janin atau plasenta mungkin tertinggal di rahim. Kuret dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa jaringan tersebut dan mencegah infeksi atau komplikasi lebih lanjut.Diagnostik untuk Kondisi RahimDalam kasus tertentu, kuret dilakukan untuk mengambil sampel jaringan dari dinding rahim yang akan diperiksa di laboratorium. Ini bisa digunakan untuk mendiagnosis kondisi seperti kanker rahim, polip, atau hiperplasia endometrium (penebalan lapisan rahim).Menghilangkan Polip atau Tumor Jinak di RahimPolip atau tumor jinak (fibroid) di dalam rahim dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau perdarahan yang tidak normal. Kuret bisa digunakan untuk menghilangkannya.Menghentikan Perdarahan Pasca MelahirkanSetelah melahirkan, jika ada sisa plasenta atau jaringan lain yang tidak keluar secara sempurna, kuret dapat dilakukan untuk membersihkannya dan mencegah komplikasi seperti perdarahan berat atau infeksi.Manfaat dari Prosedur Kuret :Mengatasi Kondisi Medis yang SeriusKuret bisa membantu mengatasi kondisi seperti perdarahan hebat, keguguran, atau infeksi di rahim dengan menghilangkan jaringan yang menyebabkan masalah.Mencegah Komplikasi Lebih LanjutJika jaringan yang tersisa di dalam rahim tidak diangkat, ini bisa menyebabkan infeksi serius, perdarahan berkepanjangan, atau bahkan masalah kesehatan jangka panjang. Kuret membantu mencegah komplikasi ini.Mendapatkan Diagnosis yang AkuratKetika dilakukan untuk tujuan diagnostik, kuret memungkinkan dokter mendapatkan sampel jaringan yang bisa diperiksa untuk mengetahui adanya kanker atau kondisi lain yang memerlukan perawatan khusus.Mengembalikan Siklus Menstruasi yang NormalPada wanita yang mengalami perdarahan abnormal atau tidak teratur, kuret dapat membantu mengembalikan siklus menstruasi ke kondisi yang lebih normal dengan membersihkan lapisan rahim.Adalah Klinik Aborsi Jakarta sebuah Klinik kesehatan kandungan yang di dedikasikan untuk pelayanan kebidanan dan kandungan dengan memberikan layanan aborsi aman tanpa efek samping yang sesuai dengan prosedur medis agar menekan kasus aborsi yang tidak aman yang banyak dilakukan oleh wanita dengan cara aborsi yang tidak aman seperti menggunakan obat aborsi, jamu aborsi, dan cara ilegal lainnya.Tindakan di Klinik Raden Saleh ini ditangani oleh Dokter SpOG (Obstetri & Genekologi) Asli dan bukan Bidan atau dokter Umum seperti di Klinik Aborsi lainnya. Peralatan medis Modern dan canggih serta alat medis Steril dimiliki dan digunakan di Klinik Aborsi Raden Saleh sehingga menjamin proses Aborsi aman tanpa efek samping tanpa takut adanya penularan penyakit serta tanpa infeksi.
13-11-2018 17:05
Melakukan pernikahan sekali seumur hidup adalah keinginan semua orang. Pernikahan akan membuat kita terhindar dari hal-hal buruk yang dapat berdampak negative dalam kehidupan sehari-hari. Saat memutuskan untuk menikah, ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan agar pernikahan dapat berjalan dengan lancer sesuai keinginan. Banyak hal yang perlu dipersiapkan dan salah satunya adalah masalah kesehatan. Usia pernikahan telah diatur oleh undang-undang Nomor 1 tahun 1974. Undang-undang tersebut menyebutkan jika batas minimal usia pernikahan untuk laki-laki 19 tahun sedangkan untuk perempuan 16 tahun. Namun walaupun sudah diatur oleh undang-undang tetap saja masih sering terjadi pernikahan di bawah umur. Mereka yang melakukan pernikahan di bawah umur memiliki banyak alas an seperti pendidikan rendah, kemiskinan, hokum adat, norma sosial maupun hokum yang kurang tegas. Padahal banyak sekali risiko kesehatan yang dapat mengancam bagi mereka yang melakukan pernikahan dini. Berikut ini beberapa risiko kesehatan yang dapat terjadi saat melakukan pernikahan dini : 1. Saat hamil di usia muda maka berisiko terserang tekanan darah tinggi. Perlu dilakukan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi dan tekanan darah tinggi sangat berbahaya bagi pertumbuhan calon bayi. 2. Bayi berisiko lahir premature. Hal ini karena berat badan bayi rendah dan belum siap untuk dilahirkan. Kelahiran premature dapat mengalami gangguan pencernaan, pernapasan, penglihatan dan lainnya. 3. Berisiko besar ibu meninggal saat melahirkan. Hal ini terjadi karena perempuan di bawah 18 tahun belum siap fisiknya untuk hamil dan melahirkan seperti panggul yang masih kecil sehingga bayi akan mengalami kesulitan untuk keluar. 4. Berisiko besar mengalami keguguran. Hal ini terjadi karena menikah di usia belia belum siap secara fisik dan mental. Organ tubuh yang belum matang akan berakibat pada pertumbuhan bayi yang juga tidak akan bisa berkembang dengan maksimal. 5. Sering mengalami bentrok dan kekerasan rumah tangga. Secara psikologis mental pasangan belum dewasa sehingga lebih rentan terjadi kekerasan rumah tangga.