Waktu Posting : 13-07-2014 19:01 | Dibaca : 3310x
09-10-2014 19:27
Asslmkm.. Selamat Malam Dok.. Saya mau tanya bagaimana cara menghilangkan keloid di dada . Saya sudah coba obat herbal Jelly Gamat tetapi belum berhasil. Adakah cara lain yang ampuh? Terima Kasih BR//Abdul Aziz Muslim
01-06-2014 18:01
Mesoterapi saat ini tengah disukai lantaran faedahnya untuk kulit mulus serta tubuh langsing. Namun tidak seluruh orang tahan dengan jarum suntik mesoterapi. Janganlah cemas, saat ini ada juga mesoterapi yang tidak memerlukan jarum. Di kembangkan di Perancis sekitar 50 tahun yang lalu, mesoterapi saat ini makin diminati orang-orang dunia lantaran dinilai berhasil membuat bentuk tubuh, kurangi selulit serta peremajaan kulit. Badan jadi lebih cepat ramping serta mulus karena injeksi melalui jarum suntik cairan obat-obatan farmasi atau cairan herbal seperti fat burner, vitamin untuk disuntikkan ke bagian mesoderm. Keunggulan lain, terapi langsing dari Perancis ini dapat mengarah ke sisi badan spesifik yang bakal dilangsingkan atau di hilangkan selulitnya seperti perut, paha, pinggang dan sebagainya. Formula yang diinjeksikan itu bakal menangkal penyimpanan lemak serta menolong memecahkan beberapa sel lemak yang ada, tak terkecuali selulit. Baca juga : Cara Sederhana Membakar Lemak Berlebih Tanpa Efek Samping Selulit ialah tipe lemak yang terjerat dibawah kulit. Kecuali lemak menyusut, aliran darah serta jaringan konektif di kulit juga diperbaiki. Oleh karenanya permukaan kulit juga jadi lebih lembut tidak lagi berupa seperti kulit jeruk. Permukaan kulit yang kendor serta penuh dengan stretchmark dapat juga diperbaiki dengan mesoterapi. Injeksi vitamin melakukan perbaikan serta meremajakan sel kulit hingga sel kulit lebih aktif serta merangsang produksi kolagen serta elastin untuk melakukan perbaikan kulit yang kendor lantaran salah satunya meregang semasa kehamilan. Sayangnya, tidak seluruh orang tahan serta nyaman diinjeksi berkali-kali walau jarum untuk mesoterapi itu relatif halus serta tidak menyakitkan. Dengan injeksi, terkadang pasien perlu waktu dua minggu lebih untuk ikuti mesoterapi selanjutnya. Baca juga : Cerdas Memilih Makanan Bernutrisi Untuk hal tersebut lalu ada mesoterapi yang tidak menggunakan jarum. Pada prinsipnya, cairan obat masuk ke jaringan mesoderm kulit melalui vibrasi serta radio frekuensi hingga perut jadi hangat. Terapi tidak dengan jarum ini tidak butuh dikerjakan oleh dokter. Juru rawat juga dapat mengerjakannya. Kecuali itu daerah yang diterapi juga dapat lebih luas dibanding dengan mesoterapi menggunakan jarum. Hasil mesoterapi itu beragam tergantung pada tipe serta keadaan badan yang diterapi. Rata-rata pasien menunjukkan perbaikan riil sesudah dua atau tiga session perawatan. Agar hasil perawatan itu lebih awet, janganlah lupa untuk selalu bergaya hidup sehat. Lakukanlah olah raga secara teratur serta beri badan konsumsi gizi yang seimbang untuk merawat kulit yang halus serta bebas stretchmark.
03-07-2024 09:49
Penyelenggaraan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan serta pembangunan kesehatan menghasilkan kebutuhan berbagai jenis tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan melaksanakan upaya kesehatan dengan paradigma sehat, yakni lebih mengutamakan upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan. Pemeritah Indonesia dalam upaya penyelenggaraan kesehatan mengatur pelaksanaannya yang dilakukan bersama-sama oleh pemerintah serta masyarakat secara serasi dan seimbang, terutama melalui upaya penyembuhan serta pemulihan yang diperlukan. Dalam perkembangan pelayanan farmasi telah terjadi pergeseran orientasi dari produk menjadi orientasi kepentingan pasien. Hal ini dilatarbelakangi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan serta tuntutan terhadap jaminan keselamatan pasien yang semakin kuat. Orientasi ini dikenal dengan konsep Pharmaceutical Care. Tentunya tanpa mengesampingkan produk. Dengan banyak ditemukannya masalah yang berkaitan dengan obat dan penggunaannya; semakin meningkatnya keadaan sosio-ekonomi dan TI. https://pafibandaacehkota.org/ Penekanan Pharmaceutical Care terletak pada dua hal utama yaitu : Apoteker memberikan pelayanan kefarmasian yang dibutuhkan pasien sesuai kondisi penyakit. Apoteker membuat komitmen untuk meneruskan pelayanan setelah dimulai secara berkesinambungan. Peran Apoteker Sebagai seorang tenaga profesional, seorang Apoteker hendaknya berperan dalam membantu upaya pemerintah untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan mandiri. Peran aktif Apoteker ini didasari dengan pengetahuan yang dimiliki Apoteker antara lain tentang patofisiologi penyakit; diet yang harus dijalani; obat-obatan yang diperlukan atau harus dihindari oleh pasien. Apoteker sebagai “A Caregiver” Apoteker menyediakan layanan kefarmasian dengan penuh perhatian. Sebagai tenaga kesehatan professional, apoteker harus dapat berinteraksi dengan tenaga kesehatan lainnya agar dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan kualitas yang baik. Apoteker sebagai “A Decision Maker” Dengan berdasarkan keilmuannya, apoteker harus mampu untuk mengambil keputusan dalam pelayanan kesehatan demi untuk kesehatan masyarakat serta dapat mengevaluasi setiap keputusan yang telah diambil. Apoteker sebagai “A Life-long-learner” Sebagai tenaga kesehatan professional, apoteker harus terus menerus meningkatkan keilmuan baik di bidang farmasi pada khususnya maupun bidang kesehatan pada umumnya. Dengan belajar terus menerus maka apoteker dapat memberikan pelayanan kefarmasian sesuai perkembangan dunia kesehatan. Apoteker sebagai “A Teacher” Apoteker juga bertanggung jawab sebagai seorang pengajar/ edukator. Dalam praktek kefarmasian di masyarakat, apoteker dapat memberikan edukasi tentang kesehatan kepada masyarakat melalui penyuluhan dan praktek apoteker di apotek. Apoteker sebagai “A Communicator” Apoteker berada di antara dokter dan pasien. Dengan demikian, apoteker harus memiliki pengetahuan dan percaya diri saat berinteraksi dengan profesional kesehatan lainnya dan masyarakat umum. Berikut ini adalah contoh tindakan yang dilakukan oleh apoteker sebagai komunikator, 1.Pemantauan terhadap kondisi pasien. Hal ini dapat dilakukan pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat pasien menebus obat, atau dengan melakukan komunikasi melalui telepon atau internet. 2.Memberikan penyuluhan kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan penyakit. 3.Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, pencegahan komplikasi atau bertambah parahnya penyakit, mencegah kambuhnya penyakit. 4.Menjelaskan obat-obat yang harus digunakan, indikasi, cara penggunaan, dosis, waktu penggunaannya, cara menyimpan obat dan membuangnya dengan benar.