Waktu Posting : 16-06-2014 17:08 | Dibaca : 2348x
31-05-2014 10:23
Kelebihan berat badan tak cuma mengganggu penampilan tapi juga membuat badan tak terjamin kesehatannya. Aneka penyakit akan dengan mudah datang dan bersarang. Tapi bukan berarti semua itu tak dapat diatasi. Dengan bantuan olahraga, diet, dan motivasi serta disiplin yang kuat, niscaya berat badan yang berlebih bisa diatasi. Secara mudah, kegemukan dapat diartikan sebagai adanya kelebihan lemak di bagian tubuh tertentu sehingga antara lain menyebabkan berat badan melebihi normal. Kelebihan lemak bisa dijumpai di lipatan perut, paha, pantat, lengan bagian atas, leher, dan sebagainya. Selain itu, jantung dan pembuluh darah juga sering diselimuti lemak. Dan kegemukan bukan saja menurunkan nilai penampilan serta daya tarik, tapi juga mendekatkan kita pada beragam penyakit yang menurunkan nilai kesehatan. Ini berbeda dengan penampilan tubuh atlet body building (binaraga). Walau mereka kelebihan berat badan, tapi tidak dapat dikatakan gemuk sebab yang berkembang adalah otot, bukan lemak tubuh. Baca juga : Membincang Perawatan Kesehatan Wanita Untuk menilai berat badan tersebut antara lain dapat diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI). Yaitu perbandingan berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (meter). Anda dengan berat 64 kg dan tinggi 1,5 m misalnya, nilai BMI-nya adalah 28,4. Nah, berdasar perhitungan tadi, Anda bisa dikategorikan bertubuh gemuk sebab BMI tubuh yang ideal adalah berkisar antara 20-25. Bila nilainya di atas 27, sudah dikategorikan gemuk. Angka BMI ini hampir sama pada pria maupun wanita. Begitulah, kegemukan mau tidak mau pasti akan menambah berat badan dan menimbulkan gangguan kesehatan. Antara lain gangguan pada sistem pembuluh darah dan jantung. Sebab sebagian kandungan lemak itu terdapat di sepanjang pembuluh darah. Akibatnya, kerja jantung untuk memompa darah semakin berat. Di sisi lain, sebagian lainnya juga akan melapisi bagian luar jantung. Ini pun akan mempersulit kerja jantung. Adanya lemak di sepanjang pembuluh darah dapat pula menurunkan elastisitas pembuluh darah balik yang pada gilirannya akan mempermudah timbulnya varises, khususnya di betis. Kaki jadi mudah mengalami kelelahan karena beban kaki sebagai penyangga tubuh tambah berat akibat berat badan bertambah. Akibat lain, tulang dan sendi bisa mengalami gangguan. Ya, ibarat mobil sajalah. Bila terlalu sering kelebihan muatan akan mempercepat kerusakan. Orang yang menderita kegemukan juga cenderung rentan terhadap gangguan penyakit. Misalnya saja penyakit gula (diabetes). Orang yang mengalami kegemukan biasanya suka makan sehingga hormon insulin tidak mampu lagi mengolah gula. Akibatnya gula menumpuk. Ginjalnya pun akan cepat rusak. Baca juga : Jangan Sepelekan Influenza Dari beragam risiko tersebut, jelas sulit untuk mengatakan, orang gemuk dapat sehat dalam jangka waktu panjang. Mungkin untuk sementara waktu mereka dapat sehat. Tapi 4-5 tahun kemudian berbagai gangguan kesehatan tadi akan muncul, meskipun yang bersangkutan berusaha agar tetap sehat. Karena kegemukan tidak sehat, maka sedini mungkin ia harus dihindari. Yaitu pada usia 18-20 tahun. Berat badan harus senantiasa terkontrol agar mencapai sekitar berat badan ideal. Setelah usia 20 tahun sudah mendapat berat badan ideal. Ini yang harus dipertahankan. Naik, boleh-boleh saja, tapi tak lebih dari 10 persen. Berat badan ideal (BBI) dapat dihitung dengan rumus: tinggi badan dikurangi 100. Kalau tingginya 160 cm, berat idealnya sekitar 60 kg. Kalaupun mau naik, ya, cukup 2-3 kg saja. Untuk mempertahankan berat ideal, olahraga adalah jawaban utamanya. Bagaimana upaya agar tetap sehat kendati menderita kegemukan? Ada dua hal yang harus diperhatikan. Antara lain melakukan aktivitas tubuh secara teratur. Sedapat mungkin harus selalu melakukan olahraga. Misalnya jalan kaki, naik tangga, lari, renang, senam, atau melakukan gerakan tubuh secara teratur dan seimbang.
18-06-2014 23:06
Pernahkah Anda menonton video di YouTube tentang telur yang matang lebih cepat karena pengaruh telepon genggam? Ancaman radiasi dari ponsel memang tak bisa dianggap sepele. Jika radiasi telepon genggam saja bisa membuat telur matang sempurna, apa jadinya telinga kita jika hampir setiap hari menempel dekat sekali dengan alat elektronik itu? Perdebatan mengenai bahaya gelombang elektromagnetik dan radiasi dari telepon seluler bagi kesehatan manusia sudah berlangsung sangat lama. Ada ilmuwan yang membenarkan mengenai bahaya tersebut, ada pula yang membantahnya. Dasarnya, penelitian seputar pengaruh telepon genggam terhadap manusia menunjukkan hasil yang berbeda. Namun, pada intinya semua perangkat yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik pasti bisa mempengaruhi tubuh manusia. Eksperimen sederhana seperti menggoreng telur menggunakan radiasi dari telepon genggam yang tengah aktif menunjukkan bahwa gelombang itu mengubah sesuatu yang organik. Baca juga : Cara Mengurangi Risiko Ancaman Gangguan Pendengaran Eksperimen itu cukup masuk akal karena frekuensi yang digunakan telepon genggam mirip dengan microwave yang juga mengandalkan gelombang elektromagnetik, memang digunakan untuk memanaskan makanan dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi masalah adalah, penggunaan telepon genggam sangat dekat ke telinga dan otak yang sangat sensitif terhadap gelombang frekuensi tertentu. Orang yang secara rutin berdiri di dekat antena microwafe selama dua-tiga tahun dapat dipastikan akan sakit. Gelombang elektromagnetik dapat mempengaruhi struktur dalam tubuh, termasuk komposisi berbagai macam cairan dalam telinga seperti ion kalium, ion natrium, protein, serta berbagai enzim. Padahal cairan-cairan itu sangat penting dalam proses pendengaran. Penyebab gangguan pendengaran yang lebih signifikan sebenarnya adalah suara. Jangan pikir hanya suara keras seperti konser dan kegaduhan pabrik yang bisa membuat seseorang kehilangan pendengarannya. Suara musik dari pemutar musik MP3 juga berpotensi membuat pendengaran kita terganggu jika kita terbiasa menyetel volume musik di atas 60% dengan durasi lebih dari satu jam setiap hari. Paparan suara yang keras dapat merusak sensor yang berada di sel rambut dalam rumah siput telinga. Ironisnya, suara-suara itu menyerang frekuensi percakapan di atas 2.000 Hertz terlebih dahulu. Sementara itu, frekuensi percakapan itu berada pada 500 Hertz, 1.000 Hertz, 2.000 Hertz, dan 4.000 Hertz. Dengan begitu, banyak penderita gangguan pendengaran yang terlambat menyadari bahwa pendengarannya bermasalah. Baca juga : Tips Sukses Diet Sehat Baik telepon genggam maupun suara gaduh bukanlah hal asing dalam hidup kita. Bagaimana pun harus diakui, kita tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari kedua hal tersebut. Telepon genggam (ponsel) misalnya, mengambil peranan penting dalam kelangsungan komunikasi kita. Sementara itu, kebisingan juga tak dapat terhindarkan terutama untuk masyarakat perkotaan. Yang bisa kita lakukan mungkin menekan risiko sampai sekecil mungkin, demi menghindarkan diri dan keluarga dari segala ancaman kesehatan. Ini bisa kita lakukan dengan aktif melakukan pencegahan. Cara Mengurangi Risiko Ancaman Gangguan Pendengaran Gunakan handsfree untuk menerima panggilan dari telepon genggam. Semakin dekat telepon genggam dengan telinga, semakin besar pula potensi radiasi yang akan terpaapr pada kepala kita. Usahakan tidak menerima panggilan telepon terlalu lama. Pilih jenis telepon genggam dengan tingkat radiasi terendah. Jika suhu telepon genggam terasa meningkat alias memanas, sebaiknya jauhkan dari tubuh kita. Jauhkan telepon genggam dari anak-anak karena otak dan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan yang sangat sensitif terhadap segala potensi gangguan. Setel volume pemutar musik MP3 atau radio maksimal 60%. Sebaiknya tidak mendengarkan musik melalui earphone lebih dari satu jam. Hindari membiarkan anak-anak berada di pusat permainan di mall selama berjam-jam. Hindari berada di tempat bising seperti konser dan klub malam dalam waktu lama. Periksakan telinga ke dokter THT setiap 3-6 bulan sekali.
28-04-2014 04:54
Berbagai Penyebab Jerawat di Wajah - Jerawat sering mengganggu penampilan anda terutama ketika jerawat muncul dalam wajah anda. Gangguan berupa benjolan di wajah ini sering membuat anda merasa nyeri sekitar wajah serta memberikan bekas yang menampilkan noda hitam di wajah anda. Berbagai cara juga dilakukan untuk menghilangkan jerawat pada bagian wajah ini, baik menggunakan produk kosmetik di pasaran maupun di berbagai klinik kesehatan dokter kulit. Diantara cara menghilangkan jerawat di wajah ini antara lain yaitu berikut ini : 1. Menggunakan sabun sulfur atau obat sulfur yang mampu mematikan benjolan jerawat di wajah. 2. Menggunakan masker ekstrak lemon yang memang mampu mengeringkan jerawat di wajah anda. 3. Resorsinol merupakan obat jerawat yang memang dapat mengeringkan jerawat anda karena obat jerawat ini mampu berperan sebagai anti bakteri, anti fungsi serta keratol. Nah, sebaiknya sebelum anda melakukan pengobatan jerawat ini anda perlu untuk mengetahui beberapa penyebab jerawat di wajah ini. Tujuannya adalah agar anda mampu mengobati jerawat sesuai dengan sasaran atau faktor penyebabnya. Jika anda ingin mengetahui beberapa penyebab jerawat di wajah ini maka berikut ini ulasannya, yaitu : Baca juga : Apa beda Osteomalacia dengan Osteoporosis? Penyebab Jerawat di Wajah Penyebab jerawat di wajah ini terbagi atas 5 faktor yang saling berkaitan satu sama lainnya untuk memunculkan benjolan di sekitar wajah yang berisi hormone ataupun nanah. Berikut ini merupakan kelima faktor tersebut yaitu 1. Faktor Keturunan Jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang menjadi bagian dari penyakit herediter. Kesinambungan diantara genetik dengan kejadian penyakit jerawat ini memang memungkinkan untuk terjadi. Pasalnya, jerawat juga muncul akibat dari pengaruh kandungan darah dalam tubuh penderitanya. Apabila keluarga anda memiliki riwayat gangguan kulit berupa jerawat ini maka sudah pasti anda akan mengalaminya jika kulit anda tidak kunjung dirawat karena jerawat berhubungan erat dengan kandungan darah parental. 2. Faktor Jenis Kulit Kulit merupakan bagian yang luas disepanjang tubuh anda. Kesehatan bagian kulit ini memang memiliki peranan yang penting untuk menjaga kepercayaan diri anda. Apalagi bagian kulit wajah anda ini, tentunya menjadi bagian pertama kali yang mampu memberikan daya tarik terhadap orang lain. Untuk itu, anda perlu melakukan perawatan kulit wajah anda agar terhindar dari gangguan kulit wajah khusunya yaitu jerawat. Munculnya jerawat banyak dikaitkan dengan jenis kulit yang berminyak. Namun, sebenarnya jerawat ini juga bisa terjadi pada kulit kering sekalipun jika penderitanya jarang melakukan perawatan kulit. So, you must care with your skin! Baca juga : Beberapa Gangguan Kekurangan Iodium 3. Faktor Jenis Kosmetik Faktor yang ketiga ini merupakan contoh faktor eksternal yang dapat mempengaruhi terjadinya jerawat. Gangguan jerawat tidak hanya muncul dari faktor pengaruh internal namun juga dapat dipengaruhi oleh faktor bagian eksternal salah satunya yaitu pengaruh pemilihan kosmetik ini. Alat perawatan wajah seperti halnya kosmetik ini memang banyak bermunculan di pasaran, baik yang dijamin oleh BPOM (badan pengawasam obat dan makanan) maupun alat kosmetik produksi rumahan. Untuk itu anda perlu melakukan pemilihan yang cocok untuk kosmetik ini. Langkah – langkah yang dapat jadikan pedoman untuk memilih kosmetik yang cocok bagi kulit anda yaitu : - Lakukan pengenalan jenis kulit anda - Usahakan anda memilih produk kosmetik yang memiliki ijin edar seperti BPOM, MUI, dll. - Jangan sesekali anda memilih produk kosmetik yang mengandung merkuri atau zat alergen semacamnya. - Gunakanlah kosmetik yang memang dianjurkan oleh dokter kulit atau tenaga medis lainnya jika kulit anda tergolong sensitif. 4. Faktor Kebersihan Kesehatan kulit wajah yang terhindar dari bahaya jerawat membutuhkan perhatian khusus terutama dari segi kebersihannya. Pasalnya, keberadaan bakteri serta virus penyebab jerawat banyak berkeliaran disekitar anda. Untuk itu, anda harus menjaga kebersihan alat – alat kosmetik yang bersentuhan langsung dengan kulit wajah anda seperti halnya spon bedak, kuas make up serta handuk anda. Anda perlu membersihkannya setiap minggunya atau pun menggantikannya ketika sudah terlihat kotor. 5. Faktor Kebiasaan Kebiasaan anda sehari – hari juga mampu menimbulkan jerawat di wajah anda. Berbagai kebiasaan yang berisiko terhadap munculnya jerawat ini antara lain yaitu kebiasaan anda yang malas mencuci muka terutama setelah bepergian, kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung kacang serta coklat dan berbagai aktivitas anda lainnya yang mampu merangsang hormon untuk menimbulkan jerawat di wajah anda.