Waktu Posting : 29-05-2014 19:55 | Dibaca : 2367x
25-04-2014 03:15
Terlalu Dini Minum Obat Medis Hipertensi Bisa Picu Stroke - Seakan sudah dilumrahkan awam kalau setiap tekanan darah atas atau sistolik di atas 120 dan tekanan bawah distolik di atas 80 serta merta dianggap sudah darah tinggi (hipertensi). Tak soal kapan diukur, bagaimana mengukurnya, dan dalam kondisi apa orang diukur. Kita tahu tekanan darah berfluktuasi dari waktu ke waktu, bahkan dari jam ke jam. Emosi, kondisi bergiat, efek hormonal dan faktor stres ikut mempengaruhi tekanan darah. Vonis bahwa seseorang hipertensi tidak dihasilkan oleh keputusan selewat sambil lalu. Sekali seseorang divonis hipertensi, mungkin harus berurusan dengan terus minum obat. Sikap seperti itu tidaklah bijak. Karena bila keputusan itu ternyata tidak tepat, orang merugi karena harus minum obat untuk sesuatu yang belum perlu. Baca juga : Obat Hipertensi dari Jus Buah-buahan Sejatinya, tekanan darah diukur pada saat baru bangun tidur pagi hari. Belum melakukan apa-apa, misal belum mengomel pada pembantu, belum merasa jengkel, dan belum juga bergiat fisik, di saat itulah tekanan darah langsung diukur. Tekanan darah saat itu mencerminkan kondisi semurninya tekanan darah. Tentu akan menjadi berbeda hasilnya bila diukur sudah melakukan aktivitas. Seseorang baru dipastikan hipertensi bila diukur tiga kali berturut-turut selang waktu beberapa hari dengan alat yang sama memberikan hasil yang sama-sama lebih tinggi dari normal. Hanya dari pemeriksaan tensi satu kali saja, dan hanya karena melihat lebih tinggi dari 120/80 mmHg, lalu langsung memastikan kalau itu hipertensi, bisa jadi belum tentu diagnosis yang betul. Optimalnya tekanan darah itu kurang atau sama dengan 120/80 mmHg. Menurut WHO International Society of Hypertension, tensi 130/85 mmHg masih tergolong normal dan 139/89 mmHg tergolong normal atas (high normal). Seseorang baru dikategorikan hipertensi (ringan) setelah tensinya 140/90 mmHg. Tentu dengan catatan, pengukuran dilakukan dengan kondisi seperti sudah disebut di atas dan alat tensimeternya sudah ditera normal. Baca juga : Tips Hidup Sehat Bersama Darah Tinggi Jadi kalau kondisi pengukuran tidak menghasilkan nilai tensi yang sesungguhnya dan tensinya belum berkategori hipertensi, tak bijak kalau terlalu cepat langsung diintervensi dengan obat. Mengapa? Bila tensi ternyata bukan yang sesungguhnya langsung diberi obat, bisa jadi tensi darah malah jadi anjlok. Kita tahu, tubuh punya mekanisme otoregulasi tekanan darah. Waspadai bila tak ada riwayat darah tidak pernah tinggi mendadak jadi tinggi. Perlu lebih kritis untuk bertanya ulang kalau dokter masih memberi resep, apa obat memang sudah diperlukan. Bila suatu saat tensi meninggi, ada sistem tubuh yang mengatur untuk menurunkannya. Sebaliknya, kalau tensi menurun, tubuh akan menaikkannya. Biarkan dulu mekanisme itu berjalan tanpa perlu diintervensi dengan obat. Kelewat cepat memberi obat, berarti mengacaukan mekanisme otomatisasi tubuh melakukan keseimbangan tekanan darah (homeostasis). Bisa jadi, malah bisa anjlok akibatnya. Kejadian anjloknya tensi darah akibat kelewat cepat atau mungkin kelewat tinggi pemberian dosis obat darah tinggi, bukan peristiwa yang jarang. Acap oleh ulah pasien sendiri yang memutuskan minum obat begitu merasa tekanan darah yang diukurnya sendiri di rumah meningkat, bisa-bisa fatal akibatnya. Baca juga : Tak Semua Obat Medis Cocok Untuk Hipertensi Tekanan darah yang mendadak anjlok buruk akibatnya pada otak dan jantung, selain ginjal. Pasokan darah ke organ-organ tubuh penting itu mendadak berkurang. Kita tahu otak paling rentan terhadap kekurangan pasokan oksigen yang dibawa oleh darah. Kasus stroke berisiko terjadi kalau tensi darah mendadak anjlok. Stroke bisa terjadi lantaran tensi darah kelewat tinggi, bisa juga bila kelewat rendah.
28-06-2014 23:07
Kira-kira 10% dari orang yang mempunyai hipertensi (tekanan darah tinggi) dikarenakan oleh penyakit lain. Bila tekanan darah tinggi dikarenakan oleh penyakit lain, maka hal semacam ini dikatakan hipertensi sekunder. Dalam masalah hipertensi sekunder, saat pemicunya diobati, umumnya desakan darah bakal kembali normal atau alami penurunan dengan cara penting. Berbagai penyakit lain yang bisa mengakibatkan hipertensi sekunder ialah : Penyakit ginjal kritis. Sleep apnea. Tumor atau penyakit kelenjar adrenal lain. Coarctation of aorta yakni penyempitan aorta yang dipunyai dari lahir, yang bisa mengakibatkan desakan darah tinggi di lengan. Kehamilan. Pemakaian pil KB. Kecanduan alkohol. Disfungsi tiroid. Sedang pemicu 90% masalah hipertensi yang lain belum di ketahui, serta hal semacam ini dikatakan hipertensi primer. Walau pemicu khusus desakan darah tinggi belum di ketahui, tetapi ada berbagai aspek spesifik yang di ketahui menyajikan peran pada desakan darah tinggi. Baca juga : Kiat Berpuasa untuk Penderita Hipertensi Berbagai Aspek Yang Tak Dapat Dirubah Umur : Bersamaan pertambahan umur, maka makin kemungkinan besar Anda meningkatkan desakan darah tinggi, terlebih sistolik disebabkan arteri jadi keras. Hal itu beberapa besar dikarenakan oleh aterosklerosis, atau “pengerasan arteri”. Ras : Semakin banyak orang Afrika-Amerika mempunyai desakan darah tinggi dibanding orang kulit putih. Orang Afrika-Amerika meningkatkan desakan darah tinggi pada umur lebih muda serta lebih cepat meningkatkan komplikasi desakan darah tinggi yang lebih kronis. Kisah keluarga (Turunan) : Desakan darah tinggi condong alami penurunan di keluarga. Tipe Kelamin : Biasanya, pria mempunyai kemungkinan semakin besar untuk meningkatkan desakan darah tinggi dibanding wanita. Kemungkinan ini beragam bergantung dari usia serta bermacam di antara grup etnis. Berbagai Aspek Yang Dapat Dirubah Obesitas : Defisini obesitas yakni bila berat tubuh Anda lebih berat 30% atau lebih diatas berat tubuh ideal Anda. Obesitas berkenaan erat dengan desakan darah tinggi. Orang yang gemuk mempunyai kemungkinan dua sampai enam kali semakin besar untuk meningkatkan desakan darah tinggi dibanding mereka yang berat tubuhnya di kisaran berat tubuh ideal. Kaum profesional medis amat merekomendasikan supaya seluruhnya orang dengan obesitas serta desakan darah tinggi untuk turunkan berat tubuh mereka sampai kisaran 15% dari berat tubuh ideal mereka. Dokter dapat menolong Anda mengkalkulasi kisaran berat tubuh ideal Anda. Sensitivitas natrium (garam) : Berbagai orang memiliki sensitivitas tinggi pada natrium (garam), serta desakan darah mereka naik bila mereka makan garam. Kurangi konsumsi natrium condong turunkan desakan darah mereka. [ Baca juga : Makanan untuk menambah Sel darah Merah ] Orang Amerika konsumsi natrium 10 sampai 15 kali semakin banyak dari yang diperlukan. Makanan cepat saji serta makanan olahan memiliki kandungan natrium dalam jumlah tinggi. Banyak pula obat OTC yang memiliki kandungan natrium dalam jumlah tinggi, umpamanya obat pereda rasa sakit. Bacalah label makanan untuk tahu berapakah banyak kandungan natrium di dalamnya. Jauhi makanan yang memiliki kandungan natrium tinggi. Maksud yang hendak dicapai ialah tak kian lebih 1500 mg natrium /hari. Minum alkohol : Minum kian lebih 1-2 gelas alkohol /hari condong menambah desakan darah pada mereka yang peka pada alkohol. Pil KB (pemakaian kontrasepsi oral) : Berbagai wanita yang memakai pil KB alami desakan darah tinggi. Kurang olahraga (kurang kesibukan fisik) : Pola hidup yang kurang kesibukan fisik menyajikan peran pada pengembangan obesitas serta desakan darah tinggi. Oba-obatan : Ada berbagai obat spesifik yang condong menambah desakan darah, seperti amfetamin (stimulan), pil diet, serta berbagai pil yang dipakai untuk menyembuhkan tanda-tanda flu serta alergi.
23-10-2014 11:22
Kolesterol tidak hanya terjadi pada orang tua saja. Pada usia 20-30an, Anda bisa memiliki kadar kolesterol tinggi jika Anda tidak bisa menjaga asupan makanan Anda. Lalu, apa yang menjadi penyebabnya? Dan, apa gejala memiliki kadar kolesterol tinggi? Kadar kolesterol yang tinggi di darah dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu konsumsi makanan yang tinggi kadar kolesterol, tidak rutin melakukan olahraga/exercise, merokok, dan riwayat keluarga. Kadar kolesterol tinggi biasanya banyak terjadi di orang-orang yang bertubuh gemuk atau obesitas. Baca juga : Rahasia Hidup Sehat Ekonomis Di samping itu, kadar kolesterol yang tinggi di darah, menurut referensi medis, biasanya belum memiliki gejala. Diperlukan hasil tes darah laboratorium untuk mengetahui kadar kolesterol di dalam darah. Yang perlu Anda ketahui adalah kadar kolesterol tinggi bisa mengakibatkan serangan jantung dan stroke. Jika kadar kolesterol sudah tinggi, cara mengatasinya yaitu mengubah lifestyle Anda, yaitu mengurangi konsumsi makanan yang mengandung kolesterol, melakukan olahraga rutin, dan menghindari merokok. Jika Anda sudah memperbaiki lifestyle Anda, kadar cholesterol LDL tetap saja tinggi, Anda disarankan untuk mengkonsumsi obat kolesterol. Sedangkan jika kadar kolesterol Anda lebih dari 200 mg/dL, disarankan mengkonsumsi obat kolesterol disertai dengan melanjutkan perubahan lifestyle untuk menjadi lebih sehat. Nah, mulai sekarang, ayo kita terapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit berbahaya seperti kadar kolesterol yang tinggi. Salah satu sumber penyakit bisa disebabkan oleh kadar kolesterol yang tinggi dalam darah. Sebelum Anda benar-benar terserang penyakit yang aneh-aneh dan serius, biasanya tubuh akan mengalami kenaikan berat badan terlebih dahulu. Untuk jalan pencegahan, Anda sebaiknya diet dan menurunkan kolesterol. Baca juga : Tips Membersihkan Lensa Kontak Nah, cara diet berikut juga merupakan salah satu yang efektif bukan hanya menurunkan berat badan namun juga menurunkan kadar kolesterol, seperti dikutip www.health.com. Cara yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah adalah diet TLC atau Therapeutic Lifestyle Changes yang sudah terkenal khusus untuk diet penurunan kolesterol. Dalam diet ini Anda harus mengurangi makanan mengandung kolesterol, bukan hanya makanan berlemak, bersantan, dan gorengan saja, namun juga semua makanan kemasan, olahan dan buah durian yang diklaim memiliki tinggi kolesterol.