Waktu Posting : 05-05-2014 00:01 | Dibaca : 2556x
22-06-2018 01:18
Momen lebaran merupakan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim. Biasanya saat lebaran akan tersedia banyak sajian yang dihidangkan yang pada umumnya mengandung santan dan lemak yang tinggi. Lemak tersebut akan menumpuk pada bagian tubuh terutama pada perut. Kondisi seperti ini bisa dialami baik oleh pria maupun wanita. Lemak yang tertimbun dalam perut pasti akan membuat tak nyaman dan dapat meningkatkan risiko penyakit akibat kelebihan berat badan. Berikut tips diet sehat yang dapat dilakukan untuk mengikis lemak usai lebaran.. Istirahat yang cukup Tidur kurang dari 6 jam sehari dapat menganggu kebuuhan insulin dalam tubuh dalam mengontrol gula darah. Tubuh akan melepaskan sejumlah hormon yang menjadi faktor utama menambah berat badan. Sebaiknya cukupi kebutuhan istirahat dengan tidur selama 7 hingga 8 jam sehari. Olahraga teratur Olahraga yang baik untuk mengatasi masalah lemak dalam tubuh setelah lebaran yaitu dengan latihan cardio, seperti jalan cepat, bersepeda, jogging, lari dan berenang. Lakukanlah selama 30 menit sehari sebanyak 3 hingga 5 hari dalam seminggu. Diet seimbang Mengurangi porsi makan terutama jatah lemak dalam sehari menjadi salah satu cara mengatasi lemak berlebih pada tubuh. Gantilah dengan mengonsumsi makanan dengan kadar protein tinggi dan rendah karbohidrat. Cara ini efektif menghilangkan lemak dalam tubuh dengan cepat. Mencukupi kebutuhan cairan tubuh Mengonsumsi air putih sebanyak 8 gelas sehari dapat membantu mengoptimalkan sistem metabolisme tubuh. Cairan tubuh yang terpenuhi juga akan menjaga kerja hati yang terus mengolah kadar lemak berlebih yang ada dalam tubuh. Konsumsi camilan sehat Saat tubuh lapar dan kadar gula menurun bisa disiasati dengan mengonsumsi camilan sehat diantara makan besar sebanyak 2 hingga 3 kali untuk mengurangi penumpukan lemak dalam tubuh.
22-09-2017 09:19
Mayoritas wanita di Indonesia pasti melakukan perawatan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Salah satu perawatan yang pasti dilakukan yaitu menggunakan krim pemutih wajah. Kulit orang Indonesia yang berwarna kuning langsat dan kecokelatan membuat para wanita Indonesia kurang puas dan mengingikan kulit yang lebih putih. Banyak sekali produk krim pemutih wajah yang dijual bebas di pasaran. Namun sebaiknya tetap berhati-hati dan waspada dalam memilih serta menggunakan krim pemutih wajah. Berikut ini beberapa tips memilih krim pemutih wajah yang aman dan tanpa efek samping. 1. Pilihlah yang harga jualnya sedikit lebih mahal Krim pemutih wajah yang aman biasanya memiliki harga yang cukup mahal karena kualitas dan kemanan produknya terjamin. Tingginya peminat dalam menggunakan krim pemutih wajah membuat banyak sekali produsen asli maupun abal-abal berlomba memasarkan produknya dengan harga yang kompetitif sehingga tak jarang kualitas bahan juga tak diperhatikan. 2. Lihat komposisi yang tertera pada label Cara yang paling mudah yaitu dnegan melihat komposisi bahan apa saja yang digunakan pada produk krim pemutih wajah tersebut. Pastikan semua bahan yang digunakan aman tanpa bahan kimia berbahan untuk kulit. Salah satu bahan kimia berbahaya yang sering terdapat pada krim pemutih wajah yaitu merkuri. 3. Pilihlah krim sesuai dengan jenis kulit Krim pemutih wajah yang baik yaitu dengan memilih yang sesuai kondisi kulit wajah baik berminyak, kering maupun normal. Bisa juga dengan memeriksakan kondisi kulit wajah terlebih dahulu di klinik kecantikan sebelum membeli krim pemutih wajah. 4. Terdapat nomor BPOM pada kemasan Nomor BPOM pada kemasan sudah pasti jika produk tersebut aman dan terpercaya. Namun nomor BPOM ini juga bisa dimanipulasi dengan teknologi. Jadi agar lebih yakin produk krim pemutih wajah itu aman lebih baik cek di website resmi BPOM.
07-09-2014 23:46
Kanker serviks, atau yang dikenal juga dengan kanker mulut atau leher rahim, adalah jenis kanker yang paling umum terjadi pada wanita di dunia, termasuk di Indonesia. WHO pun mencatat bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker penyebab kematian teratas pada wanita. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel abnormal pada leher rahim tumbuh dan menyebar tanpa terkontrol. Serviks adalah bagian bawah rahim (leher rahim) yang membuka dan terhubung ke kemaluan wanita. Penyebab Kanker Serviks Umumnya–lebih dari 99,5%–kanker serviks disebabkan oleh human papilloma virus atau HPV. Virus ini sangat mudah menyebar, baik melalui sentuhan, perpindahan cairan, atau menyentuh tempat yang telah terjangkit dengan virus ini. Namun yang paling umum adalah ketika seorang wanita melakukan hubungan seksual dengan orang yang memiliki virus HPV. Ada banyak jenis virus HPV, dan tidak semuanya menyebabkan kanker serviks. Kebanyakan orang dewasa telah atau pernah terinfeksi virus HPV, namun infeksi virus ini bisa hilang dengan sendirinya. Tetapi terkadang infeksi virus ini bisa menyebabkan kutil pada daerah kelamin atau menyebabkan terjadinya ke kanker serviks. Baca juga : Kantung Mata, Penyebab dan Cara Mengatasinya Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Itulah mengapa sangat penting bagi wanita melakukan tes PAP smear secara reguler untuk mendeteksi ketidaknormalan pada leher rahim sebelum mereka berubah menjadi kanker. Pada tes ini berlangsung, dokter akan mengorek sampel kecil dari sel-sel di permukaan leher rahim untuk melihat perubahan sel. Jika tes PAP menunjukkan perubahan yang abnormal, dokter akan melakukan tes lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berupa kanker atau dapat menyebabkan kanker di leher rahim. Gejala Kanker Serviks Perubahan abnormal pada sel serviks jarang menimbulkan gejala. Jika perubahan tersebut berkembang menjadi kanker, gejala yang timbul bisa berupa: Pendarahan tak normal pada vagina, misalnya di antara periode menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah menopause. Merasa sakit ketika berhubungan intim atau ketika buang air kecil. Nyeri di perut bagian bawah atau panggul. Keputihan yang tidak normal, misalnya berlebih atau bercampur darah. Perubahan signifikan yang tak dapat dijelaskan pada siklus menstruasi. Pada tahapan yang lebih lanjut, gejala yang mungkin timbul antara lain: Anemia karena pendarahan berlebih pada kemaluan. Sakit berkelanjutan pada panggul, punggung dan juga kaki. Masalah urinasi/buang air kecil. Berat badan turun drastis. Baca juga : 10 Kebiasaan Yang Bisa Turunkan Berat Badan Melakukan screening dan tes sejak dini sangat berperan untuk mencegah kanker serviks. Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi kasus kanker serviks yang invasif, yaitu sebesar 50% atau lebih. Penanganan Kanker Serviks Perawatan dan penanganan kanker serviks meliputi operasi pada kanker serviks stadium awal, dan kemoterapi serta radioterapi pada stadium yang lebih lanjut. Tergantung pada seberapa jauh kanker telah berkembang, penderita mungkin akan satu atau lebih penanganan (kombinasi). Jika dilakukan hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) pada penderita, maka penderita tak bisa lagi memiliki anak. Namun hysterectomy tidak selalu dibutuhkan, khususnya jika kanker ditemukan masih pada tahap sangat awal.