Waktu Posting : 03-09-2014 10:20 | Dibaca : 2871x
25-05-2014 15:04
Makanan organik merupakan makanan yang baik untuk kita konsumsi. Makanan ini bersumber dari proses alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya. Terdapat berbagai manfaat yang akan kita dapatkan saat mengonsumsi makanan organik. Di antaranya berbagai manfaat yang akan kita dapatkan tersebut adalah sebagai berikut. 1. Makanan organik lebih aman terhadap bahan kimia berbahaya. Bagi anda yang terbiasa mengonsumsi buah, sayur atau pun daging maka perlu mencermati hal berikut ini. Banyak bahan makanan yang tumbuh dengan bantuan bahan kimia, seperti pada pertanian dan juga peternakan modern. Hal tersebut jelas kehadiran bahan kimia yang terkonsumsi selama bertahun-tahun semakin lama akan semakin menumpuk dan lama-lama akan menjadi racun bagi tubuh anda dan menyebabkan tubuh menjadi sakit. Nah hal ini lah yang menjadi salah satu kelebihan dari makan organik. Karena bahan makanan organik diperoleh dari cara alami sehingga memiliki kandungan kimia berbahaya yang rendah atau bahkan tidak mengandung sama sekali sehingga sangat aman untuk anda konsumsi. Baca juga : Berbagai Makanan Sehat Untuk Diet 2. Makanan organik ini menjadi makanan yang baik untuk dikonsumsi karena mengandung banyak vitamin dan antioksidan alami yang baik bagi tubuh. Makanan organik layaknya buah dan sayuran yang diproduksi melalui pertanian alami memiliki kandungan gizi yang tinggi karena tidak menggunakan pestisida yang mengandung zat berbahaya. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa pestisida tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan dalam tubuh kita semisal menjadikan seseorang sakit kepala, mual atau yang lebih mengkhawatirkan adalah timbulnya sel kanker pada diri seseorang. 3. Makanan yang tumbuh secara alami atau diproses secara organik ini memiliki rasa yang berbeda dari makanan yang diproses melalui kegiatan menggunakan bahan kimia. Rasa yang dihasilkan pada makanan organik dinilai lebih nikmat untuk dikonsumsi daripada makanan yang lahir dari proses kimia. Misalkan saja buah dan sayuran organik yang memiliki tingkat kesegaran dan rasa yang lebih baik dari pada buah dan sayuran dari proses kimia. Baca juga : Posisi Duduk di Depan Komputer 4. Kebersihan makanan yang lebih terjaga. Dalam beberapa kasus, disebutkan bahwa bahan-bahan kimia ini dalam proses pertanian seringkali dikaitkan dengan tujuan untuk menjaga tanaman atau hasil tanaman agar tampak lebih segar dan indah dalam segi penampilannya. Hal tersebut memang benar karena ketika bahan kimia ini ditambahkan dalam proses produksi tersebut maka hama atau gulma pengganggu akan sulit tumbuh dan tanaman akan tampak lebih terawat. Namun tentu saja hal ini menjadikan banyak kandungan berbahaya yang masih tertinggal di tanaman. Dengan demikian maka jelas kebersihan bahan makanan yang sesungguhnya tetap berada di makanan organik yang meskipun kondisi luarnya terlihat kurang baik tetapi kandungannya tetap sehat. 5. Membicarakan tentang kandungan gizi maka secara otomatis kita juga membicarakan tentang khasiat dari makanan organik itu sendiri. Buah dan sayur seperti yang anda ketahui merupakan bahan makanan yang baik dikonsumsi setiap harinya untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Zat-zat yang terkandung di dalam buah dan sayur berkhasiat untuk menangkal berbagai jenis penyakit. Benarkah? Perlu untuk anda garis bawahi adalah tentang buah dan sayur yang dimaksud di sini lebih ditekankan pada buah dan sayur yang diproses secara alami. Karena seperti yang saya jelaskan di atas bahwa buah dan sayuran kimia memiliki kandungan kimia sehingga khasiatnya pun terbatas dan juga menimbulkan racun bagi tubuh. Demikianlah beberapa ulasan menarik yang dapat saya kupas tentang kelebihan yang didapatkan dari mengonsumsi makanan organik. Semoga sedikit rangkuman yang saya sajikan di atas mampu membantu anda untuk mendapatkan makanan yang berkualitas.
22-07-2016 09:33
Berikut adalah beberapa hal kebiasaan hidup sehari-hari yang bisa menjadi penyebab diabetes: 1. Teh manis Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes. Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari. 2. Gorengan Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan. Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah. Baca juga : Akhlaq Suami Terhadap Istri 3. Suka ngemil Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah. Pengganti: Buah potong segar. 4. Kurang tidur. Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik. Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari. 5. Malas beraktivitas fisik Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat. Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya. Baca Juga: 5 Obat Efektif Untuk Osteoarthritis Solusi: Bersepeda ke kantor. 6. Sering stres Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat. 7. Kecanduan rokok Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga. Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi. 8. Menggunakan pil kontrasepsi Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik. Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun. Baca juga : Cara Tahan Lama Tanpa Obat Kuat (Ejakulasi Dini) 9. Takut kulit jadi hitam Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah. Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit. 10. Keranjingan soda Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak. Pengganti: Jus dingin tanpa gula
28-12-2025 19:07
Isu sertifikat halal kembali mengemuka di tengah masyarakat Indonesia dan menjadi bahan perbincangan luas di berbagai ruang publik. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, persoalan kehalalan produk bukan sekadar isu administratif, melainkan menyangkut keyakinan, kenyamanan, dan kepercayaan umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dinamika perdebatan tersebut, nama Babe Haikal turut menjadi sorotan karena pandangan dan pernyataannya yang dianggap relevan dengan kegelisahan sebagian masyarakat.Sertifikasi halal di Indonesia telah diatur secara resmi melalui regulasi negara. Kebijakan ini bertujuan memberikan jaminan kehalalan produk, melindungi konsumen, serta menciptakan standar yang jelas bagi pelaku usaha. Dalam kerangka ini, sertifikat halal tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga nilai ekonomi dan hukum. Produk bersertifikat halal dinilai lebih kompetitif, baik di pasar domestik maupun internasional. Namun, implementasi kebijakan ini masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.Salah satu tantangan utama adalah kesiapan pelaku usaha, khususnya usaha mikro dan kecil. Banyak dari mereka mengeluhkan prosedur yang dianggap rumit, biaya yang dirasa membebani, serta minimnya pendampingan dan sosialisasi. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan beragam kritik dan aspirasi dari masyarakat. Dalam konteks tersebut, Babe Haikal sebagai tokoh agama dan figur publik kerap menyuarakan pandangan yang menyoroti sisi kemanusiaan dan kepentingan umat.Nama Babe Haikal menjadi sorotan karena pernyataannya dianggap mencerminkan suara masyarakat bawah yang terdampak langsung oleh kebijakan sertifikasi halal. Bagi pendukungnya, sikap tersebut dilihat sebagai bentuk kepedulian terhadap umat agar regulasi yang diterapkan tidak justru menyulitkan mereka yang seharusnya dilindungi. Pandangan ini mendapat perhatian luas karena disampaikan oleh tokoh yang memiliki basis pengikut dan pengaruh di ruang publik.Namun, sorotan terhadap Babe Haikal juga diiringi dengan beragam respons. Sebagian pihak menilai bahwa kritik terhadap sertifikasi halal perlu disampaikan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Sertifikat halal dipandang sebagai instrumen penting untuk menjaga kepercayaan umat. Jika publik keliru memahami kritik tersebut, dikhawatirkan akan muncul anggapan bahwa sertifikasi halal tidak penting atau sekadar formalitas, padahal esensinya sangat krusial.Perdebatan ini menunjukkan adanya kebutuhan akan komunikasi yang lebih baik antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat. Isu sertifikat halal seharusnya tidak dipahami sebagai pertentangan antara regulasi dan kepentingan umat, melainkan sebagai upaya bersama untuk mencapai kemaslahatan. Penyederhanaan prosedur, bantuan bagi usaha kecil, serta edukasi yang berkelanjutan dapat menjadi langkah konkret untuk menjawab berbagai keluhan yang ada.Pada akhirnya, mengemukanya isu sertifikat halal dan sorotan terhadap Babe Haikal mencerminkan dinamika sosial yang sehat dalam masyarakat demokratis. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, selama diarahkan pada dialog yang konstruktif. Dengan keterbukaan dan niat baik dari semua pihak, sertifikasi halal dapat terus diperbaiki agar benar-benar menjadi sistem yang adil, kredibel, dan berpihak pada kepentingan umat secara luas.